Tak Seharusnya Anies Tebang Pohon Hanya Untuk Kepentingan Revitalisasi Trotoar, Ahli tata kota : "konsep penataan trotoar harus mengikuti pohon yang sudah eksis terlebih dahulu."

Sisa-sisa batang pohon angsana dan beringin yang berada di trotoar Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (7/11/2019). Foto : TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT


MARTIRNEWS.COM - Ahli Tata Kota  dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, menilai penebangan pohon di Jakarta untuk kepentingan revitalisasi trotoar tidak tepat. 

Dia mengatakan semestinya pohon-pohon yang sudah ada dipelihara dan didata.

"Gubernur Anies Baswedan harus segera memerintahkan jajarannya untuk menghentikan penebangan pohon. 

Pemprov DKI Jakarta harus melakukan audit dan registrasi pohon. 

Pohon layak diperlakukan seperti warga kota yang memiliki kartu identitas dan terdaftar (registrasi dan identitas) sehingga keberadaan dan keadaan pohon dapat mudah dilacak dan segera diketahui statusnya," ucap Nirwono , Selasa (12/11/2019).

"Jakarta juga belum memiliki rencana induk pohon dan Perda tentang pohon sebagai acuan perencanaan penataan dan pemeliharaan pohon," ujar Nirwono.

Kebijakan pemotongan pohon di trotoar dinilai tidak tepat. 

Menurutnya, semestinya ada kajian sebelum pohon tersebut dipotong. 

Selain itu, konsep penataan trotoar harus mengikuti pohon yang sudah eksis terlebih dahulu.

"Penebangan pohon karena terkena pelebaran trotoar atau terkena saluran air justru tidak tepat karena desain trotoar dan saluran harusnya mengikuti keberadaan pohon yang telah ada lama di situ, bukan malah ditebang. 

Dinas Pertamanan dan Kehutanan tidak serius merawat pohon. 

Harusnya pohon masih bisa diselamatkan atau dirawat (kalau sakit, keropos, dll)," Kata Nirwono.Nirwono juga menyesalkan pohon angsana yang ditebang. 

Pohon angsana lebih rindang daripada tabebuya yang rencananya akan ditanam untuk menggantikan angsana.

"Dibandingkan dengan tabebuya (kategori pohon kecil), sedangkan beringin dan angsana (pohon besar) tentu memiliki fungsi ekologis lebih baik ketimbang tabebuya, misal daya serap gas polutan, keteduhan dan iklim mikro, produksi oksigen (daunnya lebih lebat dan tajuk lebih lebar), serta berusia lama ratusan tahun. 

Pemilihan tabebuya lebih karena mengikuti trend saja serta ketersediaan di pasaran," kata Nirwono.

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan penebangan pohon di seberang Stasiun Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. 

Selain itu, Pemprov juga berniat menebang pohon di kawasan Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat dan Kemang, Jakarta Selatan.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi meminta Pemprov DKI menghentikan pemotongan pohon seperti di seberang Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. 

Menurut Prasetio, pohon di Cikini masih sehat dan tidak layak potong.

"Bicara keropos, lihat di sini (foto bekas pemotongan pohon di Cikini yang viral). 

Ini keropos? Ini pohon sehat, kalau ranting (mengganggu) bisa dikisis," ujar Prasetio kepada wartawan di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (11/11/19).

Bagi Prasetio, jika harus dihilangkan dari trotoar, lebih baik pohon itu dipindah beserta akarnya ke lokasi lain. Bukan dipotong sehingga pohon menjadi mati.

"Kalau pindah, kan masih ada kawasan yang kosong seperti di Sudirman, kan banyak. 

Di mana nggak rindang, tanami pohon, jadi kiri kanan bagus," ucap Prasetio.





Sumber : Detiknews.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel