Kisah Pendeta di Kepulauan Talaud Melayani Jemaat Saat Pandemi Covid-19



MARTIRNEWS.COM - Dampak mewabahnya Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh warga di kota besar, tetapi juga hingga ke pelosok.

Termasuk, di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulut, daerah yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Adalah Crispin Larunsedu STeol, seorang pendeta dari Gereja Masehi Injili Talaud (Germita) mengisahkan bagaimana dia melayani jemaatnya di tengah isu penularan Covid-19.

"Situasi dan respon masyarakat beragam. Ada yang takut, cemas, khawatir. Ada juga yang menyikapinya dengan santai," tutur Crispin.

Sikap santai masyarakat karena mereka bisa juga peduli tapi berusaha berpikir positif, sambil terus mendengar anjuran pemerintah.

Terutama untuk tetap menjaga kesehatan, dan menjaga jarak melalui social dan physical distancing.

Di tengah hangatnya suasana kekeluargaan di pedesaan, instruksi pemerintah untuk menjaga jarak menjadi tantangan tersendiri.

"Kita sebagai pendeta tak hentinya mengimbau jemaat untuk mematuhi aturan pemerintah. Ada yang patuh tapi juga masih ada yang acuh," dia menegaskan.

Dia mengungkapkan, hal yang dialami adalah sulitnya menjelaskan untuk tidak berjabat tangan sementara waktu. "Apalagi untuk para lansia, sulit mereka terima. Namun, lama kelamaan mulai terbiasa," tandasnya.

Dampak mewabahnya Covid-19 ini kian terasa bagi umat Kristen ketika memasuki ibadah Jumat Agung dan Perayaan Paskah.

Crispin mengungkapkan, sikap Germita lewat Surat Penggembalaan yang dua kali dikeluarkan mengimbau dan mengajak jemaat mencegah penyebaran Covid-19.

Kemudian Germita mengambil kesimpulan untuk melaksanakan semua jenis ibadah di rumah-rumah jemaat.

"Semua itu dilakukan gereja untuk bersama berjuang memutus mata rantai penyebaran Covid-19," ujar pendeta yang kini melayani di Jemaat Germita Sanggarome Moronge, Pulau Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud ini.

Dia menuturkan, proses pelayanan tetap berjalan meski ada beberapa dibatasi, ibadah dilakukan di rumah masing-masing, tidak lagi berjabat tangan dengan jemaat.

Meski berada di daerah kepulauan, akses komunikasi yang cukup lancar membuat pelayanan face to face bisa dilakukan secara online.

"Jika ada pengumuman cukup lewat pengeras suara, atau media internet mulai dari Facebook, dan WhatsApp," tandasnya.

Suasana ibadah secara online tentu berbeda saat jemaat bisa berkumpul bersama. Hal ini juga yang dirasakan Crispin saat Perjamuan Kudus dalam menghayati kematian Tuhan Yesus di hari Jumat Agung.

"Tahun ini tentu sangat berbeda, dan sangat mengharukan karena tidak dihadiri oleh warga jemaat," ujar Crispin yang sudah 12 tahun bekerja sebagai pendeta ini.

Perjamuan Kudus di gereja hanya dihadiri oleh Badan Pelaksana Harian Jemaat yang berjumlah 9 orang, kemudian dilanjutkan pelayanan di rumah-rumah warga jemaat.

"Bila ada yang jemaat yang membutuhkan pelayanan mendadak seperti sakit dan kedukaan, tetap dikunjungi di rumah-rumah," dia mengungkapkan.

Crispin mengatakan, dalam situasi seperti ini yang pasti iman dan logika tertantang menghadapi wabah Covid- 19 ini dengan terus berpengharapan dalam iman. "Semua akan secepatnya membaik," ujarnya memungkasi.

Sumber: liputan6

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel