Terjadi Kekacauan Saat Lockdown, Mendagri Turki Mundur Dari Jabatannya, Erdogan Tolak

foto: kompas

MARTIRNEWS.COM - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Turki Suleyman Soylu mengundurkan diri pasca-kekacauan saat karantina wilayah atau lokcdown terkait pandemi Virus Corona di negaranya.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak pengunduran itu.

Diketahui, Pemerintah Turki memutuskan untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown seluruh negeri selama 48 jam untuk menangkal penyebaran Covid-19, Jumat (10/4).

Namun, pengumumannya dilakukan hanya 2 jam sebelum pemberlakuan kebijakan itu. Hal ini memicu kekacauan massal di seluruh negeri, seperti belanja panik (panic buying) berbagai kebutuhan.

Kerumunan dan antrian terjadi dimana-mana. Aturan jarak sosial atau social distancing demi menghindari penularan Corona pun terabaikan.

Suleyman Soylu kemudian mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu (12/4) usai menuai kritik keras dari oposisi dan warga di media sosial atas kebijakannya.

"Semoga negara saya, yang tidak pernah ingin saya sakiti, dan presiden kami, yang kepadanya saya akan setia sepanjang hidup saya, memaafkan saya," kata Soylu, dalam pernyataan pengunduran dirinya, dikutip dari AFP.

Menteri berusia 50 tahun itu pun mengaku "bertanggung jawab sepenuhnya atas penerapan kebijakan [karantina] ini". Ia pun menambahkan bahwa hal itu dilakukan "dengan itikad baik".

Padahal sebelumnya Suleyman, saat merespons kekacayan akibat pengumuman hari Jumat itu, mengatakan kebijakan lokcdown ini merupakan "instruksi" dari Presiden Erdogan.

Beberapa saat setelah pengumuman Suleyman itu, Erdogan menyatakan menolak pengunduran diri itu.

"Dia akan terus menjalankan fungsinya," ujar dia.

Kemenkes Turki sendiri menyebut hampir 57.000 orang terinfeksi Virus Corona dengan 1.200 orang di antaranya meninggal.

Soylu menjabat Mendagri sejak 2016, atau sebulan sejak kudeta yang gagal menggulingkan Erdogan.

Ia disebut ikut mengawasi pembersihan pasca-kudeta, termasuk upaya penangkapan ribuan warga, jurnalis, dan tokoh oposisi Kurdi.

Sumber: cnnindonesia.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel