Bikin Merinding... Suara Tangis 'Kuntilanak' Ganggu Petugas COVID-19 yang Beroperasi, Polisi Turun Tangan



MARTIRNEWS.COM - Tangisan yang diduga berasal dari makhluk gaib, kuntilanak sempat menggegerkan warga beberapa waktu lalu.

Pasalnya, suara tangisan terdengar saat para petugas COVID-19 tengah melakukan operasi pemblokiran di wilayah tertentu.

Meski begitu, suara tangisan dianggap berasal dari beberapa individu pembuat onar yang ingin mengganggu operasi pemblokiran jalan yang dilakukan petugas.

Tindakan pemblokiran juga bertujuan untuk menekan penyebaran virus corona di Jalan Tenom-Sipitang, Malaysia pada Jumat, 1 Mei 2020.

Suara tangisan terdengar sekitar pukul 10.30 WIB malam hari sebagaimana dikutip PORTAL JEMBER dari Harian Metro pada Sabtu, 2 Mei 2020.

Tiga anggota polisi dan dua relawan yang saat itu tengah berjaga turut mendukung bahwa suara tangisan terdengar seperti dari seorang perempuan.

Seorang anggota polisi setempat juga sempat merekam peristiwa, membuat media sosial ramai setelahnya dengan menduga-duga bahwa suara tersebut berasal dari makhluk halus.

Menurut Ketua Polisi Daerah Tenom, Deputi Superintendan Hasan Majid, suara yang disebut sebagai makhluk halus tidak benar adanya dan hanya bagian dari tindakan tak bertanggung jawab oleh individu yang mencoba menakut-nakuti otoritas.

"Lokasi itu memang benar di Jalan Tenom-Sipitang, namun bunyi tangisan wanita itu adalah bunyi yang diambil dari YouTube 'Kuntilanak menangis'," kata Hasan.

Setelah kejadian tersebut viral, polisi akan menyelidikinya dengan lebih pasti.

"Mereka entah mencoba menakut-nakuti atau bercanda. Tapi, polisi akan menyelidiki masalah ini," lanjutnya.

Hasan menambahkan, polisi telah mengadakan pencarian di dekat lokasi kejadian dan menemukan sebuah tempat di sebuah bukti yang baru ditebas.

Ia mengemukakan bahwa suara tangisan wanita itu diambil dari YouTube dan dimainkan dari bukit tersebut melalui pembesar suara atau gawai mereka.

"Maka dari itu, masyarakat tidak perlu khawatir dan kami mengingatkan mereka untuk menghentikan tindakan tersebut dan polisi akan melakukan investigasi terhadap pelaku," ujar Hasan.

Bila tertangkap, pelaku akan dijatuhi hukuman selama dua tahun penjara atau membayar denda atau dua-duanya menurut peraturan KUHP bagian 189.

Berlaku pula Peraturan 11 (1) Peraturan-Peraturan Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit (No.4) 2020, yaitu denda hingga RM 1.000 atau penjara hingga enam bulan atau keduanya sekaligus bila terbukti bersalah.

Sumber: pikiranrakyat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel