Luhut: AS Ingin Relokasi Industri Farmasi dari Cina ke Indonesia



MARTIRNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah Amerika Serikat (AS) berkeinginan untuk merelokasi industri farmasinya dari Cina ke Indonesia.

Rencana relokasi itu sebagai imbas dari  hubungan Negeri Paman Sam dan Negeri Panda tersebut yang tak kunjung membaik.

"Dia (AS) mau relokasi industrinya, saya diminta Presiden (Joko Widodo) bicara sama pembantu Presiden Trump," kata Luhut saat bincang khusus bersama Radio Republik Indonesia (RRI), Ahad 9 Mei 2020.

Saat pandemi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, diketahui bahwa bahan baku dari produk obat-obatan itu 90 persen mengandalkan impor.

Tak kurang dari 60 persen bahan baku obat itu berasal dari Cina dan 30 persen asal India.

Oleh karena itu, kata Luhut, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta agar semua keperluan alat kesehatan dan obat-obatan segera direformasi agar tak selalu mengandalkan barang impor.

Salah satu langkah yang dilakukan untuk membangun industri farmasi di dalam negeri adalah dengan menggandeng Amerika Serikat.

Luhut menjelaskan, terkait rencana relokasi industri farmasi Amerika Serikat, dirinya telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo guna menyiapkan lahan seluas 4.000 hektare guna membangun kawasan ekonomi khusus.

"Sekarang kita kerjain dan saya sudah bicara dengan Gubernur Jateng, karena sebelumnya pernah kita kerjakan itu,  tapi terhenti," tuturnya.

Untuk saat ini, pemenuhan alat kesehatan dalam negeri untuk penanganan Covid-19 pun sudah mulai terlihat. Salah satunya dengan pembuatan alat pelindung kesehatan hingga ventilator buatan anak bangsa.

"Sekarang industri-industri (APD) sekarang buatan dalam negeri sekarang sudah jalan produksi 1,5 juta per bulan," kata Luhut.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berupaya berinisiatif memindahkan rantai pasokan barang global atau pabrik dari Cina ke negara lain seiring ketegangan kedua negara terkait wabah virus Corona.

"Kami sedang mengupayakannya (mengurangi ketergantungan pasokan suplai barang dari Cina) selama beberapa tahun tapi sekarang mempercepat pelaksanaan inisiatif soal ini,” kata Keith Krach, undersecretary Bidang Pertumbuhan Ekonomi, Energi, dan Lingkungan, di kementerian Luar Negeri kepada Reuters pada Senin, 4 Mei 2020.

Kementerian Perdagangan AS dan Luar Negeri serta beberapa lembaga lainnya berupaya mendorong perusahaan agar memindahkan asal pasokan bahan baku dan kegiatan manufaktur dari Cina.

Ini dilakukan dengan memberi insentif pajak dan ketentuan lainnya untuk mendorong terjadinya perpindahan ini, disamping memanasnya hubungan kedua negara saat pandemi virus corona atau Covid-19 ini semakin memuncak.

Sumber: tempo

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel