Dicap Kampret Protes Tagihan Listrik, Tompi: Jangan karena Mendukung Kentut Orang Kita Klaim Wangi

foto: sulselonline

MARTIRNEWS.COM - 
Nama Tompi menjadi trending topik gara-gara protes soal tagihan listrik.

Tompi protes tagihan listrik lewat akun Twitternya kemarin.

Ada banyak respon dari netizen soal protes Tompi soal tagihan listrik.

Tak sedikit netizen yang masih saja menyangkut-pautkan Tompi dengan Pilpres.

Beda halnya dengan netizen, Fadli Zon justru memberi tanggapan lain terkait protes Tompi soal tagihan listrik.

Awalnya Tompi protes tagihan listrik tanpa ada konfirmasi dari PLN.

"TAGIHAN PLN MENGGILA!

Ini dr PLN kagak ada konfirmasi2 main sikat aja," tulis Tompi di akun Twitternya.

Diketahui bersama, sebelum Tompi banyak masyarakat lain yang sudah lebih dulu protes soal tagihan listrik yang membengkak.

Meski begitu, PLN memastikan pihaknya tidak menaikkan tarif listrik secara diam-diam.

Soal protes Tompi ini, Fadli Zon turut menyentil PLN.

Fadli Zon meminta agar PLN segera menanggapi protes Tompi soal tagihan listrik.

"Tlg @pln_123 segera konfirmasi ke @dr_tompi juga ke semua pelanggan yg komplain" tulis Fadli Zon.

Lewat akun Twitternya yang terverifikasi, PLN menanggapi protes Tompi.

PLN meminta Id pelanggan Tompi.

"Mohon maaf atas kendala yang dialami saat ini ya Kak,

agar admin dapat melakukan pengecekan dapat dibantu Id pelanggannya via DM ya.

Trims -Riko" tulis akun PLN.

Tompi menjelaskan tagihan listrik itu bukan di rumahnya, melainkan di kantor.

Padahal menurut Tompi, selama ini kantor tersebut kosong tak pernah dihuni.

"Besok sy kirim ya.

Itu kantor kosong gak dipake krn hampir 3 bulan tutup," kata Tompi membalas PLN.

Tompi kemudian membuat thread, ia menjelaskan rupanya ada tarif minimum yang mestyi dibayarkan pelanggan PLN.

Tak ayal, kali ini Tompi mesti membayar sampai Rp 2,1 juta.

"Pada tahu gak , kl PLN itu ternyata : ada tarif minimum yg harus dibayarkan meski gak ada pemakaian ( kecuali sistem prepaid / token isi ulang).

Nah kasus di gw ternyata harus bayar 2.1 jt per bulan meski gak dipake.

Yg disayangkan adalah hal2 bgini “kurang terinfokan “ di awal," tulis Tompi.

Tompi menceritakan ia sudah bertemu dengan petugas PLN.

Pada kasusnya kali ini, kata Tompi, ada kesalahan hitung di tagihan listrik.

Selain salah hitung, kantor kosong Tompi juga diberlakukan taruif minimum yang tetap harus dibayarkan.

"Barusan ketemuan ama petugas lapangan PLN, mrk jelaskan hal2 yg menurut sy di jelaskan diawal berlangganan secara gamlang.

PUBLIK harus tau hak dan kewajibanya.

Sehingga tdk terkesan negatif saat ada kasus salah hitung

Utk kasus sy kmrin : yg satu salah hitung , satunya ternyata Kena minimum bayar 2.1 jt per bulan meski tempat tutup.

Meski ada mekanisme kompensasi, namun selama ini tdk ter informasikan dengan baik.

Sy rasa PLN perlu memperbaiki KOMUNIKASI PUBLIK nya dan lebih lugas / gamblang dalamnpenjelasan," tulis Tompi.

Banyak netizen yang malah meledek Tompi.

Diketahui bersama, saat Pilpres lalu Tompi adalah pendukung Jokowi.

Tak sedikit netizen yang menganggap Tompi protes karena tak dapat jabatan dari Jokowi.

Soal ini, Tompi meminta agar segala sesuatunya tidak dikaitkan dengan dukungan seseorangan.

"Dan aku pun mendadak jadi kampret ...

hanya krn mengkritik yg gak beres. enak juga.

Gini ya, jgn hanya krn kita mendukung seseorang lantas kentut org itu kita klaim wangi surga, eeknya laksana kue coklat ! JANGAN," tulis Tompi.

Kasus serupa dialami warga Malang.

Malahan, warga Malang tersebut harus membayar taguhan listrik sebesar Rp 20 juta.

Padahal ia hanya membuka usaha las listrik.

Kisahnya bahkan viral di Facebook (FB)

Tagihan listrik PLN milik warga Malang itu naik menjadi Rp 20 juta lebih sebulan, lebih tinggi dari tagihan listrik rumah presenter Raffi Ahmad yang juga sempat viral dibicarakan warganet.

Seperti diberitakan Surya.co.id, Teguh Wuryanto, warga Malang mengeluhkan tagihan listrik usaha bengkel las miliknya mencapai Rp 20.158.686 juta.

Keluhan itu ia unggah lewat media sosial Facebook, Selasa (9/6/2020).

"Padahal selama saya 23 tahun menjadi pelanggan PLN, selalu taat membayar.

Lalu tagihannya hanya Rp 985.000 hingga sampai Rp 2.200.000," ujar Teguh yang merupakan warga Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) ketika dikonfirmasi.

Teguh menambahkan, keanehan nominal tagihan terjadi sejak tempat bengkel las miliknya didatangi oleh petuhas PLN.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Januari 2020.

"Saya tidak merasa melakukan kesalahan dengan pihak PLN," kata Teguh.

Pada bulan berikutnya, yakni Februari 2020, Teguh mendapati kenyataan bahwa tagihan listriknya naik.

Namun, kenaikan tersebut dianggapnya masih pada kewajaran.

"Dari situ saya mulai curiga, namun rasa curiga saya hilang ketika saya mendapati kenaikannya ternyata wajar," ungkap Teguh.

Keanehan terjadi ketika memasuki bulan Mei 2020.

Tagihan listriknya melonjak tidak wajar, menjadi sebesar Rp 20.158.686.

"Benar-benar seperti mimpi. Guna memastikan kebenarannya, saat itu langsung saya cek meteran saya, dan saya coba hitung sampai hari ini ternyata sebanyak itu," beber Teguh.

Sumber: tribunnews

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel