Gatot Nurmantyo Ngaku Minta Setnov Robek Surat Usulan Panglima TNI dari Jokowi? Ini Kata Refly Harun

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo


MARTIRNEWS.COM - Surat dari Jokowi kepada Ketua DPR RI Setya Novanto pernah diminta Gatot Nurmantyo agar dirobek.

Benarkah kisah pengakuan itu?

Ya, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengaku pernah meminta agar surat penunjukan dirinya agar dirobek.

Pakar hukum tata negara Refly Harun lalu membahas hal tersebut.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Refly Harun, diunggah Minggu (27/9/2020).

Refly Harun menanggapi pengakuan Gatot tersebut yang mengaku meminta Ketua DPR Setya Novanto merobek surat tersebut.

"Jadi diangkat sebagai panglima TNI, malah menolak. Ini menarik," komentar Refly Harun.

"Kita tidak tahu kebenarannya, itu adalah versi dan pengakuan dari Gatot Nurmantyo sendiri," lanjut dia.

Refly lalu menyinggung penunjukkan Gatot Nurmantyo memang melanggar giliran angkatan TNI dalam menduduki jabatan panglima.

"Tapi kalau kita lihat sesungguhnya memang ada konvensi, ketetapan tidak tertulis, bahwa yang namanya panglima TNI digilirkan di antara tiga angkatan," paparnya.

Menurut dia, hal itu sebenarnya sudah dimufakatkan sejak era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Ketika Moeldoko menjabat, harusnya yang menggantikan berasal dari Angkatan Udara," jelas Refly.

"Entah kenapa yang diajukan adalah KSAD Gatot Nurmantyo. Artinya tradisi pergiliran angkatan itu tidak terjadi," tambah pengamat politik itu.

Sebelumnya Refly Harun membacakan kutipan berita dari Kompas.tv.
Menurut Gatot, ia dihubungi Ketua DPR yang menjabat saat itu, Setya Novanto (Setnov).

Saat itu Setya Novanto menyebutkan Jokowi telah berkirim surat kepada DPR untuk mengajukan Gatot Nurmantyo menjadi calon tunggal Panglima TNI.

Ekspresi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) saat berpelukan dengan mantan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kanan) usai upacara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/12/2017). Marsekal TNI Hadi Tjahjanto resmi menjabat sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang memasuki masa pensiun. Kala itu pergantian berlangsung damai karena sesuai mekanisme. (ANTARA FOTO)


"Setelah membacakan surat rekomendasi dari Jokowi, kata Gatot, Setnov kemudian bertanya kepada dirinya terkait tindak lanjut dari surat Jokowi tersebut," ucap Refly Harun membacakan kutipan berita.

"Kemudian beliau tanya, ‘surat ini harus saya apakan?’" ujar Gatot."
"Gatot pun kemudian memberikan dua pilihan kepada Setnov.

Pertama, tanpa diduga Gatot menyarankan kepada Setnov untuk merobek surat dari Jokowi tersebut."

"Tak hanya dirobek, kata Gatot, dirinya juga menyampaikan untuk membuang surat tersebut ke tong sampah setelah dirobek. 

Kedua, Gatot menyerahkan kepada Setnov untuk diapakan surat tersebut."

Dari sikap Gatot tersebut, Refly menduga mantan KSAD itu hendak menolak tawaran jabatan sebagai panglima.

Ditawari Posisi, Gatot Nurmantyo Ungkap Pernah Dihubungi Menteri

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengaku pernah menolak tawaran menjadi Menteri Pertahanan, hal itu terungkap dalam kanal YouTube Refly Harun, diunggah Kamis (27/8/2020).

Diketahui Gatot menjadi satu dari tiga presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang baru saja mendeklarasikan sikapnya. 

Pakar hukum tata negara Refly Harun, yang turut tergabung dalam KAMI, menyinggung ada tudingan koalisi itu dibentuk atas sakit hati karena tidak mendapat jabatan di pemerintahan.

Namun Gatot membantah dan menjelaskan dirinya pernah mendapat tawaran untuk menduduki jabatan menteri.

"Pada saat saya jadi panglima TNI pun di 2017, saya pernah dihubungi juga oleh satu menteri untuk dijadikan menteri pertahanan," ungkap Gatot Nurmantyo.

Refly Harun lalu menebak-nebak siapa menteri yang ditugaskan menghubungi Gatot tersebut.

"Satu menteri, oleh menteri pertahanan," ucap Refly Harun sambil berpikir-pikir.

"Saya menduga itu Pak Tjahjo Kumolo. Menduga saja," katanya.
Gatot segera menyanggah tebakan Refly Harun.

"Enggak, menteri yang memang ditugaskan untuk itu," jelas mantan Kasad ini.

Refly segera mengajukan tebakan lain, yakni Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

"Oh, kalau menteri yang ditugaskan itu adalah Pratikno, Menteri Sekretaris Negara, sudah pasti itu," jawabnya yakin.

Gatot tidak membantah tebakan kedua dan hanya terkekeh.

Ia mengaku saat itu tawaran sang menteri langsung ditolaknya.

"Saya katakan, 'Bapak, terima kasih, betul-betul terima kasih'," tutur Gatot.

Gatot menjelaskan tawaran itu muncul pada periode pemerintahan Jokowi yang pertama.

Ia menyebutkan alasannya menolak jabatan yang menjadi idaman perwira TNI tersebut.

"Saya bilang, 'Terima kasih, tidak ada seorang panglima TNI yang tidak bermimpi menjadi menteri pertahanan. 

Tapi di kondisi sekarang ini di sisa waktu saya, saya ingin memberikan moral dan etika kepada junior saya'," paparnya.

Gatot menambahkan, selain itu ia pernah berkonflik dengan menteri pertahanan yang menjabat pada periode tersebut.

Ia membenarkan hubungannya dengan Menteri Ryamizard Ryacudu saat itu memang tidak terlalu harmonis.

Diketahui ada yang menduga penolakan Gatot berawal dari konflik dengan sang mantan menteri pertahanan.

"Hampir semua media tahu pada waktu itu saya dengan Menteri Pertahanan Ryamizard terjadi 'hubungan yang tidak harmonis'," jelas Gatot.

"Sebenarnya secara pribadi enggak ada masalah," tambah dia.

s: tribunnews.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel