Demonstrasi Menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law Tak Jarang Berakhir Ricuh Sampai Memaksa Polisi Menembakkan Gas Air Mata. Media Internasional Pun Beramai-Ramai Menyoroti Hal Ini.

foto: reuters

MARTIRNEWS.COM - Tak hanya buruh, mahasiswa pun ikut turun untuk menuntut keadilan usai DPR RI mengesahkan UU Cipta Kerja Omnibus Law. Demonstrasi ini digelar sejak Selasa (6/10) kemarin di berbagai daerah Indonesia.

Sayangnya beberapa aksi massa berakhir ricuh, seperti yang terjadi di kawasan industri PT Indomarco Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi ini. Tak hanya digelar dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19 yang minim, demonstrasi bahkan berlangsung ricuh.

Kericuhan di lapangan pun tak main-main, sebab polisi sampai menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Tak hanya itu, terekam pula kericuhan sampai massa beradu pukulan dengan pihak kepolisian yang bertugas.

Video-video yang menggambarkan situasi di lapangan ini meramaikan media sosial dan terus menuai perhatian warganet. Apalagi ketika sebuah video yang menunjukkan kondisi salah seorang massa demonstran yang berdarah-darah dan dalam upaya mendapatkan perawatan.

Dalam narasi yang disertakan pengunggah video, korban merupakan mahasiswa Universitas Pelita Bangsa Cikarang yang tampak berjas almamater biru dan terbaring tak berdaya di atas brankar. Dalam caption-nya diisukan sang mahasiswa meninggal dunia pasca terlibat dalam aksi massa.

"Minta do'anya buat kawan kami dari universitas pelita bangsa Cikarang . Adik kita ini kabarnya wafat. Selamat jln pahlawan," tulis @kharimakharima1, Rabu (7/10). "Kami hanya ingin menyuarakan suara tapi terbalas seperti ini. Kejadian bentrokan dengan aparat di kawasan industri Jababeka 1."

Aksi demonstrasi ini pun rupanya tak hanya menjadi sorotan nasional tetapi juga sampai dunia. Beberapa media asing ternyata ikut mengabarkan aksi massa yang ada, terutama dikaitkan dengan upaya polisi dalam membubarkan massa seperti dengan memakai gas air mata hingga meriam air.

"Polisi Indonesia telah menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang menentang undang-undang ketenagakerjaan baru di dua kota di pulau Jawa, dan menangkap 23 orang," demikian isi tulisan Guardian. Perspektif yang sama juga diangkat oleh CNN International dan media Singapura The Strait Times.

Media AlJazirah sendiri mengambil sudut pandang berbeda. Tak hanya menyoroti demo, mereka yang turut menggandeng aktivis Mighty Earth juga menyoroti soal potensi kerusakan lingkungan di balik UU Ciptaker.

s: wowkeren.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel