Inilah Dalang Dibalik Timor Leste Merdeka



MARTIRNEWS.COM - Ramos Horta">Jose Ramos Horta adalah seorang yang diketahui berpengaruh terhadap kemerdekaan Timor Leste waktu dulu.

Perlu diketahui, Ramos Horta">Jose Ramos Horta merupakan sosok dibalik lepasnya Timor Leste dari Indonesia dalam mendapatkan kemerdekaan.

Kemudian, atas jasanya tersebut, Ramos Horta">Jose Ramos Horta dianugerahi Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1996 lalu.


Horta lahir pada 26 Desember 1949 di Dili, ibukota Timor Leste.

Ibunya merupakan orang Timor sementara ayahnya berdarah Portugis.

Sang ayah dideportasi ke Timor Leste setelah berpartisipasi dalam pemberontakan melawan diktator António Salazar.

Horta mulai aktif menyuarakan pergerakan kemerdekaan negaranya setelah ia selesai mengenyam pendidikan hukum di Amerika Serikat.

Kala itu Timor Leste masih berada dalam kekuasaan Portugis.

Kegiatannya membuat para penguasa Portugis marah, dan dia terpaksa melarikan diri ke Mozambik pada tahun 1970.


Kembali pada tahun 1972, Ramos-Horta memihak faksi Fretilin pro-kemerdekaan dalam perang saudara di Timor Timur.

Fretilin menguasai pemerintah pada 28 November 1975, dan mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste dan Ramos-Horta diangkat menjadi menteri luar negeri.

Baru 9 hari menjabat, Indonesia kemudian menginvasi Timor Timur, dan Ramos-Horta kembali diasingkan.

Ramos-Horta belajar dan mengajar di Eropa, Australia dan Amerika Serikat selama di pengasingan, setelah menyelesaikan gelar master dalam studi perdamaian di Antioch University di Seattle pada tahun 1984.

Meski begitu, ia tak berhenti menyuarakan dan membela kepentingan orang Timor-Leste, terutama di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dia berbicara menentang pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan militer Indonesia yang menduduki dan mempromosikan rencana perdamaian untuk mengakhiri kekerasan di negaranya.

Hal tersebut membuatnya dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1996 untuk kampanye perlawanan sedunia yang dipelopori melawan pemerintahan Indonesia saat berada di pengasingan setelah invasi Timor Timur tahun 1975.

Ramos-Horta berbagi Hadiah Perdamaian dengan rekan senegaranya, Uskup Carlos Belo.

Setelah menerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian pada tahun 1996, ia memberikan penghargaan dan hadiah uang tersebut kepada sebuah program bernama Microcredit for the Poor.

Pada pertengahan 1980-an, Ramos-Horta mulai menganjurkan dialog dengan Indonesia, dan pada 1992 ia mempresentasikan rencana perdamaian.

Akhirnya pada tahun 1999, pemerintah Indonesia mengabulkan keinginan mayoritas rakyat Timor Leste yang kala itu memilih berpisah dari Indonesia.

Horta kembali ke Timor Leste pada tahun 1999 setelah negaranya merdeka.

Ia kemudian ditunjuk sebagai menteri luar negeri pada 2002.

Pada tahun 2006 ia kemudian diangkat menjadi perdana menteri setelah Mari Alkatiri mengundurkan diri karena tuduhan telah mengobarkan kekerasan yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Pada Mei 2007 Ramos-Horta terpilih sebagai presiden, dengan mendapatkan hampir 70 persen suara.

Ramos-Horta gagal dalam upayanya untuk masa jabatan kedua, namun, pada Maret 2012, dia berada di urutan ketiga dalam putaran pertama pemilihan presiden.

Ia digantikan pada bulan Mei oleh mantan pemimpin gerilyawan dan kemudian komandan militer Timor Timur Taur Matan Ruak (José Maria Vasconcelos).

Meski tak lagi memimpin Timor Leste, Ramos Horta pernah mengungkapkan keinginannya mengubah negaranya sesukses Dubai.

"Kami memiliki ratusan orang yang belajar untuk jenjang master mereka di luar negeri.

Pada saat yang sama, kami berinvestasi dengan bijak. Kami hidup dari investasi ini.

Saat saya mengatakan Dubai, saya sedang melamun. Lupakan Dubai.

Saya akan senang jika Timor Leste bisa mencapai ketinggian di Fiji.

Kami bisa melakukan jauh lebih baik,” kata Ramos-Horta kepada Al Jazeera di tahun 2017 lalu.

Sayang, harapan Horta nyatanya jauh dari realita.

Timor Leste diketahui masuk dalam daftar Indeks Kemiskinan PBB Multidimensi Global (MPI) 2020.

Artikel ini telah tayang sebelumnya di zonajakarta.pikiran-rakyat.com dengan judul:

Negara yang dulunya provinsi ke-27 Indonesia ini berada pada urutan ke-152 dari 162 negara termiskin di dunia.

Kini Timor Leste dihadapkan dengan krisis ekonomi bahkan diperkirakan bangkrut pada tahun 2027.

Bukan tanpa alasan, ini berdasarkan laporan bahwa ladang minyak dan gas utama Timor Leste akan mengering pada 2020.***

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel