Komentari Jokowi Sering Dimanfaatkan, Refly Harun: Ini Menarik, Pemerintah Sibuk Bidik Suara Kritis



MARTIRNEWS.COM - Refly Harun memberikan penilaiannya terkait komentar Fahri Hamzah yang mengatakan kalau Presiden Joko Widodo kerap kali dimanfaatkan, dia menyebut ini sebagai hal yang menarik, Minggu 25 Oktober 2020.

"Ini menarik ya, kenapa saya katakan menarik? jika kita kaitkan dengan 2024 misalnya, kita tahu bahwa pemerintahan Presiden Jokowi akan paripurna sepuluh tahun dua periode sama seperti yang dilakukan, yang terjadi selama masa pemerintahan Presiden SBY, yang genap sepuluh tahun, dan Presiden SBY adalah presiden pertama yang menjabat secara paripurna dalam sejarah Indonesia," kata Refly Harun.

"Insha Allah hal yang sama akan terjadi pada Presiden Jokowi, tetapi bukan berarti tidak ada catatan-catatan kritis masa kepemimpinan Jokowi terutama periode ke-2 ini. Apa yang dikatakan Fahri Hamzah perlu digarisbawahi," ucap Refly Harun melanjutkan.

Refly mengatakan kalau saat ini sesungguhnya politik bekerja untuk siapa. Apakah bekerja untuk kepentingan Presiden Jokowi, ataukah untuk kepentingan oligarki yang ingin terus menguasai politik Indonesia dengan cara mudah dan murah.

Dia menambahkan bahwa salah satu adalah yang sering terjadi sekarang, yaitu penangkapan para aktivis yang sering kali bersuara kritis.

"Salah satunya adalah kalau kita lihat skenario penangkapan-penangkapan aktivis kritis misalnya. Itu miris sekali, karena pada era reformasi ternyata kita masih mengalami hal seperti ini. 

Padahal ini adalah yang kita kritis sebelumnya, dan justru pada era seperti ini, terjadi desentralisasi," ucapnya.

Refly menilai jika dulu masyarakat berhadapan dengan penguasa yang deep state, yang zalim, dengan penguasa yang otoriter. 

Sekarang masyarakat berhadapan dengan kelompok-kelompok yang non-state lainnya yang juga bisa berwatak otoritarian.

"Karena itulah sesungguhnya ada bahaya di sana, ketika banyak penunggang gelap dan pemain-pemain yang diluar kontrol presiden," ujar Refly. Dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari laman Youtube Refly Harun.

Dia mengungkapkan bahwa pada awalnya masyarakat berharap agar periode ke-2 masa jabatan Jokowi ini sebagai periode emas, periode yang konsolidatif.

 Akan tetapi, rupanya alam berkehendak lain. Karena adanya pandemi Covid-19 yang menggerus semua energi di seluruh dunia, di seluruh pemerintahan manapun di dunia.

"Lalu ada resesi, dua hal tersebut ditambah lagi dengan perilaku politik yang cenderung mengarahkan kepada otoriter, yang terakhir ketika aktivis-aktivis KAMI ditangkap oleh pihak yang berwajib. 

Padahal kita tahu sangat miris sekali kalau negara ini masih memenjarakan orang yang kritis, hanya karena berbeda pendapat dengan penguasa, atau dengan kelompok sipil masyarakat lainnya," ujarnya.

Menurutnya, kalau mengandalkan pada leadership Jokowi, kapasitas leadership itu adalah kapasitas yang tidak bisa ditarik lagi karena sudah inherent di dalam kemampuan seseorang. 

Apalagi Jokowi sudah memerintah selama enam bulan.

"Jadi barangkali pelajaran tentang leader skill harusnya sudah ditutup. 

Salah satunya mungkin adalah bagaimana Presiden Jokowi mau dan berani menyeleksi pembantu-pembantunya. 

Mereka yang mau membuat negara menjadi lebih baik, bukan menjadi pencoleng-pencoleng di sekitar kekuasaan, atau penunggang gelap yang mengeruk harta di dalam lingkaran kekuasaan," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa jika memang reshuffle adalah sebagai jawabannya, maka diharapkan masa pemerintahan yang empat tahun lagi ini akan membuat tonggak yang baik, pondasi yang baik bagi negara ini ke depan.

Tidak hanya dalam hal ekonomi dan sebagainya, tetapi juga pada kebebasan sipil, kebebasan berbicara, serta perlindungan hak asasi manusia, yang akhir-akhir ini menjadi sangat berbahaya, seperti dalam ancaman.

"Karena kebebasan sipil makin terbelenggu dengan tindakan-tindakan represif. Entah dari aparat maupun dari kelompok-kelompok lainnya.

 Saya pribadi sangat menyesalkan kalau terjadi paradoks di negeri ini, kalau di penjara dipenuhi orang-orang yang kritis. 

Bukan orang-orang yang absolut orang jahat seperti pencoleng, pencuri, koruptor. 

Saya khawatir pemerintah hanya sibuk membidik orang-orang yang kritis, yang berbeda pendapat," ucap Refly Harun.***

Sc:pikiran rakyat 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel