Sebar Hoaks Massa Aksi Demo Tolak UU Ciptaker Meninggal Dunia, Mahasiswa Ini Ditangkap Polisi

Seorang mahasiswa asal Kota Bima AR (27) warga Rite, Kecamatan Raba, harus berurusan dengan polisi karena menyebarkan berita bohong atau hoaks. (foto: antara)


MARTIRNEWS.COM - Polisi meringkus seorang mahasiswa asal Kota Bima berinisial AR, 27, karena menyebarkan hoaks tentang adanya korban meninggal saat aksi demo penolakan UU Omnibus Law di Kota Bima, NTB, Jumat (9/10).

Ia memposting video durasi pendek yang menyatakan salah satu masa aksi GERAM Bima yang menggelar aksi tolak Undang-Undang Omnibus Law telah meninggal dunia.

"AR mengunggah video sekitar pukul 10.00 Wita, Jumat (9/10) usai menggelar aksi unjuk rasa di Kota Bima," kata Kapolres Bima Kota AKBP Haryo Tejo Wicaksono SIK, Sabtu.

Dalam postingan itu, menyebutkan salah satu massa aksi yang diamankan pihak kepolisian pascaaksi unjuk rasa terkait penolakan pengesahan UU Omnibus Law yang berlangusung pada Kamis tanggal 8 Oktober telah meninggal dunia.

AR menyebarkan video berisi mahasiswa STISIP BIMA bernama Gufran, 21, asal Desa Hidirasa, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima meninggal dunia. Video itu kemudian viral di media sosial dan banyak dibagikan.

Tim Puma Satuan Reskrim Polres Bima Kota melakukan penangkapan terhadap AR sekitar Pukul 17.15 Wita. Dalam penangkapan itu diamankan barang bukti satu unit handphone dan satu sim card.

“Sudah kami amankan di polres guna dimintai keterangan lebih lanjut” tandas Kapolres.

Kapolres Bima mengimbau warga agar berhati-hati menggunakan dan memposting sesuatu di media sosial yang mengandung hoaks dan unsur Suku, Agama dan Ras yang dapat memprovokasi masyarakat.

Karena kepada pelaku penyebaran kebencian dan hoaks melalui medsos akan berlaku UU ITE dengan ancaman pidana penjara.

s: jpnn.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel