Fakta Penangkapan Pasangan Gay di Banda Aceh, MU Sudah 7 Kali Berhubugan Badan dengan Pria Berbeda



MARTIRNEWS.COM - Satpol PP WH Banda Aceh mengamankan pasangan homoseks atau penyuka sesama jenis dari salah satu kos-kosan di Kuta Alam, Banda Aceh.

Penggerebekan pasangan gay ini sempat menghebohkan warga.

Mereka ditangkap warga setempat saat sedang berhubungan sesama jenis pada Kamis malam, 12 November 2020.

Pasangan homoseks itu masing-masing, MU (26) dan TA (34) asal Banda Aceh.

Kedua pelanggar yang menyukai sesama jenis ini pun langsung digelandang ke kantor Satpol PP dan WH Banda Aceh, Jumat, 13 November 2020 dini hari.

Berikut sejumlah fakta yang dihimpun Serambinews.com terkait penggerebekan pasangan penyuka sesama jenis tersebut:

1. Berawal dari Kecurigaan Pemilik Kos

Penggerebekan pasangan homo tersebut bermula dari kecurigaan pemilik kos.

Kos yang digerebek selama ini ditempati pria berinisial MU (26).

Pasalnya, MU yang sudah menempati kontrakannya kurang lebih sebulan lalu, terlihat sering mengajak teman laki-lakinya yang terlihat asing secara bergantian

Kecurigaan pemilik kontrakan semakin kuat saat melihat bawaan MU yang cenderung lemah gemulai dan kemayu.

Atas dasar kecurigaan itu akhirnya pemilik kost yang dirahasiakan identitasnya itu menyampaikan perihal tersebut ke perangkat warga setempat.

Mendapat laporan tersebut, akhirnya sekitar pukul 23.30 WIB, penggerebekan pun dilakukan.

Penggrebekan kamar kos yang ditempati pria asal Aceh Barat ini berlangsung pada Kamis (12/11/2020) malam.

2. Tersangka Mengaku Baru Selesai Hubungan badan

Pada saat penggerebekan, pasangan pria berinisial MU (26) dan pasangannya TA (34) pria asal Kota Banda Aceh itu itu baru saja selesai melakukan hubungan badan.

Kedua pelanggar yang menyukai sesama jenis ini pun langsung digelandang ke Kantor Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Jumat (13/11/2020) dini hari, sekitar pukul 00.35 WIB.

Plt Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Heru Triwijanarko, SSTP, MSi, mengatakan kecurigaan itu telah lama mendera pemilik kost.

“Pemilik kontrakan dan warga semakin curiga, pada saat pintu kost itu cukup lama dibuka setelah digedor-gedor oleh warga.

Iya, kurang lebih sekitar lima menit kemudian baru dibuka, dalam kondisi keduanya setengah telanjang,” kata Heru, didampingi Kabid Penegakan Syariat Islam Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Safriadi SSos 

Pintu kamar kost itu dibuka pria MU setelah merasa terdesak akibat terus dipaksa oleh pemilik kontrakan dan warga untuk segera membukanya, pungkas Heru.

Saat digerebek warga, pasangan gay tersebut mengaku baru saja melakukan tindakan asusila.

3. MU Sudah 7 Kali Berhubugan Badan dengan Pria Berbeda

Plt Kasatpol PP WH Banda Aceh Heru Triwijanako mengatakan, menurut pengakuan pelaku bahwa MU dan AS baru sekali melakukan itu.

“Keduanya saling kenal melalui jejaring media sosial aplikasi WeChat. Melalui aplikasi  itu mereka menjalin komunikasi hingga berujung ke perbuatan liwath (perbuatan tidak senonoh sesama jenis),” katanya.

MU yang berperan sebagai “wanita”mengaku sudah pernah melakukan perbuatan haram itu sebanyak tujuh kali dengan orang yang berbeda.

MU juga mengaku tidak hanya melakukannya di Banda Aceh, tapi juga di beberapa daerah lainnya di luar Banda Aceh.

Heru menyebut, berdasarkan penelitian pihaknya, pelaku MU juga terdapat kelainan secara mental.

“MU ada kelainan seperti tingkah laku dan cara dia bicara. Bahkan dia mengaku tidak suka menjadi peran laki-laki, dia memang lebih suka jadi peran wanita,”ujar Heru.

Adapun AS sebagai pemeran laki-lakinya, merupakan warga Kota Banda Aceh sesuai dengan identitas KTP

4. Kedua Pelaku Diperiksa dan Ditahan

Kabid Penegakan Syariat Islam Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Safriadi SSos I, menambahkan setelah diserahkan oleh warga, petugas langsung memeriksa dan meminta keterangan pria MU dan TA secara intensif, di samping keterangan dari saksi warga.

Dari keterangan kedua pelanggar yang mengaku sudah melakukan hubungan badan sesama jenis itu pun akhirnya langsung ditahan pada dini hari itu.

"Pada Jumat tadi, kedua pria itu pun dibawa ke salah satu rumah sakit untuk divisum dan memperkuat kasus persetubuhan sesama jenis itu terjadi," terang Kabid Penegakan Syariat Islam, Safriadi SSos I.

Terhadap pasangan gay tersebut mulai pukul 00.00 WIB, Sabtu (14/11/2020) dini hari akan dibawa ke Satpol PP dan WH Provinsi Aceh dan akan ditahan di sana selama 20 hari.


5. Melanggar Qanun Aceh dan Terancam 100 Kali Cambuk

Didampingi Kasi Penyelidikan dan Penyidikan, Zakwan SHI, Safriadi mengatakan kedua pelanggar syariat Islam ini melanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat Pasal 63 Ayat 1 tentang Liwath.

Ancaman Hukuman Uqubat Cambuk paling banyak 100 kali atau denda paling banyak 1.000 gram emas murni

“Atau penjara paling lama 8 tahun 3 bulan,” tandas Zakwan.

Dalam waktu 20 hari kedua gay itu ditahan, ungkap Heru, penyidik Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, mempersiapkan pemberkasan untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

“Bila dalam waktu 20 hari masih kurang, maka penahanan untuk pasangan gay tersebut masih dapat ditambah 30 hari ke depan,” tambah Kabid Penegakan Syariat Islam, Safriadi SSos I.

6. DPRK Kecam Kasus Gay dan Minta Dihukum Berat

Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar ST mengecam tindakan dan prilaku dua pria yang melakukan homoseksual (gay), di salah satu rumah kos di kawasan Kecamatan Kuta Alam pada Kamis (12/11/2020) malam.

Saat digerebek oleh warga dan pemilik rumah kos, pasangan pria yang berinisial MU (26) asal Aceh Barat dan TA (34) asal Banda Aceh itu, baru saja selesai melakukan hubungan badan.

Saat ini, keduanya sudah ditahan oleh Satpol PP dan WH Banda Aceh.

“Kasus ini sebenarnya sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu yang dilakukan mahasiswa. Ketika adanya lagi kasus seperti ini, kita tentu menyayangkan bahwa prilaku homoseksual masih ada di Banda Aceh,” katanya kepada Serambinews.com, Sabtu (14/11/2020).

Ia meminta pemerintah kota (pemko) dalam hal ini Satpol PP dan WH, agar memperketat dan meningkatkan razia pelanggar syariat Islam.

Sebab, ketika razia dilakukan pasti ditemukan pelanggar-pelanggar syariat, baik kasus maisir maupun mesum.

“Makanya pemerintah kota harus mengintensifkan pelaksanaan razia syariat Islam. Pemerintah kota juga harus mapping kawasan mana saja yang sering terjadi maksiat,” ungkap politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Dengan munculnya kasus homoseksual ini, Farid menduga masih ada kasus serupa yang terjadi di tengah masyarakat, hanya saja tidak terendus.

Ia juga meminta peran serta masyarakat, dalam melakukan pengawasan terhadap pelanggar syariat.

“Peran aparatur gampong perlu diberdayakan sebagai pagee gampong, masing-masing kita melakukan pengawasan gampong sendiri. Setiap gampong juga harus memastikan setiap pendatang tidak melakukan praktik menyimpang,” ujarnya.

Sementara anggota DPRK Banda Aceh, Musriadi Aswad, meminta agar pasangan homoseksual tersebut dihukum seberat-beratnya sesuai Qanun jinayat.

"Semestinya di tengah pandemi Covid-19 ini, kita semua lebih mendekatkan diri kepada Allah agar pandemi berakhir, bukan malah berbuat maksiat yang mendatangkan murka Allah, dan semalam Allah juga menegur kita dengan gempa," kata Musriadi, Sabtu (14/11/2020).

Politisi PAN ini berharap, warga Banda Aceh harus bersatu mendukung terwujudnya pelaksanaan syariat Islam secara kaffah.

Pengawasan terhadap pelanggar syariat Islam, lanjut Musriadi, jangan hanya dibebankan kepada Satpol PP dan WH yang jumlah personelnya terbatas.

"Masyarakat harus ikut mendukung melakukan pencegahan dini, minimal di lingkungannya masing-masing," ujarnya.

Selain itu, Musriadi juga meminta Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota dan instansi terkait, agar segera mengambil langkah.

Di antaranya pencegahan, pembinaan, dan rehabilitas supaya perilaku seks menyimpang tidak merebak lebih luas di tengah masyarakat.

"Kita semua harus waspada dan peduli dengan keluarga dan lingkungan. Tetap mamantau keluarga, terutama anak agar tidak salah jalan. Bimbingan orang tua sangat diperlukan, supaya anak tidak menyimpang. 

Awasi pergaulan jangan sampai terkontaminasi dengan hal-hal negatif. Tanamkan nilai-nilai agama dan budaya pada diri anak dan keluarga," pesannya.(*


S:Pos serambi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel