Rizieq Pulang Nodai Hari Pahlawan



MARTIRNEWS.COM - tanggal 10 November selalu ada yang luar biasa terasa. Para pahlawan pejuang kemerdekaan seolah selalu hadir di tengah kita, diantara ritual-ritual peringatan Hari Pahlawan yang ada.

Tak hanya di acara-acara peringatan formal, bahkan diantara ucapan selamat yang biasanya terucap atau tertulis pun begitu terasa adanya semangat juang warisan para pahlawan yang sudah rela mengorbankan jiwa raganya bagi bangsa dan negara tercinta.

Biasanya, di malam atau siang Hari Pahlawan, setiap tahunnya selalu dengan khidmat bangsa dan negara ini mengenang dan merefleksikan peristiwa sejarah berdarah 75 tahun silam dengan berbagai cara, yang selalu pula setelahnya kian mengobarkan dan menggelorakan semangat juang.

TV-TV nasional maupun media-media mainstream dan lini masa media sosial pun demikian. Semua menghadirkan nuansa-nuansa perjuangan. Tanpa terkecuali. Bersama-sama membangkitkan ingatan pada para pendahulu yang tak pernah gentar melawan penjajah demi mempertahankan tanah tumpah darahnya.

Selaku penerus perjuangan, setiap generasi terus menerus diperkenalkan pada sosok-figur para pejuang, pada para pahlawan yang dengan gigih merebut, memperjuangkan, dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah, berikut kisah-kisah heroiknya yang menyentuh jiwa. Tak lupa pula diajarkan bagaimana menghargai perjuangan sekaligus memaknai kemerdekaan yang diwariskan dengan berbagai wujud perjuangan di masa kini.

Memori tentang bagaimana perjuangan para pahlawan untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankannya begitu lekat di masing-masing kita selaku penerus. 

Karena itu, minimal setiap tiba Hari Pahlawan, kita semua dengan khidmat bersama-sama mengenangnya. Jiwa kita seperti masuk ke dimensi lain dan terhubung arwah para leluhur pejuang pahlawan kemerdekaan. Sekali lagi hal semacam ini selalu terjadi, minimal setahun sekali di momentum Hari Pahlawan.
 
Tetapi hari ini, di 10 November tahun ini, kesakralan peringatan Hari Pahlawan terganggu, kesuciannya ternodai oleh ulah para pengacau kedamaian, oleh para begundal pengganggu ketenteraman, oleh komplotan penjaja agama yang dengan segala cara memaksakan kehendaknya supaya junjungannya yang akan datang dari pelarian bisa disambut dengan gegap gempita, berharap akan muncul stigma sebagai penjemputan pahlawan bangsa.

Mau tak mau kita harus memperingati Hari Pahlawan dengan kebisingan-kebisingan suara dan ulah bedebah komplotan pengacau yang terus menerus diberitakan media dan diperbincangkan di sosial media. 

Para penjaja agama itu tak henti menyuarakan bahwa junjungannya yang disebut Imam Besar adalah pejuang, pahlawan.

Kita yang waras, meski secara reflek mungkin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar atau membaca narasi si imam besar disebut pejuang-pahlawan, tetapi sebenarnya kita pun merasa miris. 

Miris karena nyatanya banyak diantara anak bangsa ini yang mempercayainya. Ribuan orang yang hadir menyambut kedatangan Rizieq Shihab di bandara itu adalah mereka yang meyakini bahwa mereka sedang menjemput datangnya seorang pejuang, seorang pahlawan yang dibangga-agungkan.

Akal sehat kita tentu saja menolak, tak bisa menerima. Bagaimana bisa seorang pelaku kriminal, seorang pengecut yang kabur dari jerat hukum, yang bahkan untuk pulang ke negaranya sendiri saja harus menyebarkan kebohongan demi kebohongan itu bisa diyakini sebagai pejuang, sebagai pahlawan.

Siapapun yang waras pasti tak mau gelar mulia sebagai pejuang dan pahlawan disematkan pada seorang berwatak beringas, gemar menghina-memaki-melecehkan, dan terus menerus melakukan upaya-upaya pemberontakan. 

Kewarasan dan kesadaran bangsa ini tak bisa terima jika Rizieq Shihab yang pelaku kriminal itu disebut pejuang, apalagi pahlawan bangsa.

Tapi bagaimanapun itulah faktanya. Itulah yang terjadi hari ini di sela peringatan Hari Pahlawan tahun 2020 ini. Jangan ditanya bagaimana mereka, para pejuang kemerdekaan, para founding fathers yang ada di alam sana menyaksikan fenomena yang terjadi hari ini. 

Kita yang sedih dan miris ini tentu belum seberapa dibanding kesedihan mereka yang hingga mengorbankan jiwa raganya menyaksikan fenomena kita sekarang.

Sebagai generasi penerus perjuangan para pahlawan dan sebagai pewaris kemerdekaan yang telah diperjuangkan, kita memang tidak bisa menghapus fakta yang sekaligus menodai sejarah kita. Tapi, kita masih bisa dan harus terus berjuang bersama agar pembodohan yang menodai itu tidak terjadi lagi di hari-hari yang akan datang. Kita harus melawan segala macam bentuk pembodohan yang menyesatkan. Kita semua, segenap anak bangsa harus merdeka dari itu semua.

Selamat Hari Pahlawan! Selamat berjuang sampai titik darah penghabisan!

S:Seword

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel