Siswa Kelas 4 SD Dikeluarkan dari Sekolah, Ortu Nunggak SPP Rp13 Juta, Sang Ibu: Hati Saya Hancur

MARTIRNEWS.COM -  Kisah sedih datang dari keluarga Erlindawati. Ia diberitakan tengah mengalami kesulitan finansial karena dampak pandemi co...


MARTIRNEWS.COM - Kisah sedih datang dari keluarga Erlindawati. Ia diberitakan tengah mengalami kesulitan finansial karena dampak pandemi corona sehingga belum bisa membayar dan melunasi tunggakan SPP sekolah anak keduanya di sebuah SD di Jakarta. 

Sudah beberapa kali melakukan komunikasi kepada pihak sekolah, hasilnya belum mendapat solusi. Malah, kini anaknya yang duduk di kelas 4 SD tersebut dikeluarkan dari sekolah gara-gara tunggakan SPP yang mencapai Rp 13 juta belum dilunasi. 

Sang ibu merasa hatinya hancur begitu mengetahui adanya surat bahwa anaknya dikeluarkan dari sekolah dan tidak lagi mendapat link belajar sebagaimana kebanyakan siswa ketika belajar di rumah akibat pandemi corona selama ini. 

Ibu anak itu pun berusaha keras memperjuangkan agar anaknya yang sedang terguncang psikologisnya bisa kembali sekolah.

Masalah yang dialaminya ini sedang berusaha dimediasi oleh sejumlah pihak terkait. 

Bagaimanapun, dampak pandemi Covid-19 membuat para orang tua yang ekonominya terhempas, merasa kelabakan, dikutip Tribun Jogja dari kompas.com.

Seperti yang dialami Erlindawati, yang kesulitan membayar SPP anak keduanya yang bersekolah di SD di Jakarta.

Anaknya yang duduk di kelas 4 SD ini terpaksa dikeluarkan ( drop out) dari sekolah.

"Dampak pandemi ini cukup membuat ekonomi saya turun drastis. Saya tidak bisa membayar SPP anak saya mulai bulan April hingga saat ini," kata dia, Selasa (5/1/2021).

Sebetulnya, ia sudah mendatangi sekolah dan mengatakan akan bertanggung jawab melunasi SPP anaknya.

"Saya katakan, bahwa saya bertanggung jawab sepenuhnya, tanpa meminta keringanan. Saya komitmen dan koperatif setiap kali diajak komunikasi sekolah," kata dia.

Ibu rumah tangga ini, menyebutkan SPP anaknya jika ditotal ada sekitar Rp 13 juta. Dengan rincian, per bulan yang dibayarkan Rp 1.085.000.

"Malah, tahun ajaran baru ini kok naik menjadi Rp 1.250.000. Padahal, ini juga masih pandemi," keluhnya.

Diminta melunaskan SPP tiga hari saja

Kronologinya cukup panjang. Permintaan pelunasan SPP diterima Indah pada 11 Desember 2020 lalu.

"Dalam keterangannya, tiga hari setelah surat dilayangkan, SPP harus lunas. Saya kaget sekali. Darimana cari uang banyak dalam waktu tiga hari? Saya coba komunikasi dengan Kepsek dan dijanjikan akan di proses ke yayasan," ujar perempuan yang akrab disapa Indah ini.

Surat per tanggal 11 Desember ini, diakui Indah menjadi surat pertama dari sekolah. Sebelumnya, tidak ada sama sekali surat permintaan pelunasan SPP.

"Saya langsung datang ke sekolah untuk menjelaskan kronologis ekonomi saya. Setelah 11 Desember, lanjut pada 15 Desember saya bikin surat permohonan untuk penundaan," kata dia.

Saat menunggu jawaban apakah ia boleh menunda pembayaran atau tidak dari yayasan, muncul lagi surat baru yang menyatakan jika anaknya OA (bukan nama asli) diberhentikan.

Surat kedua ini, dikirimkan melalui Whatsapp per tanggal 23 Desember 2020.

"Hati saya hancur. Anak saya pas awal masuk sekolah malah tanya sama saya. Ma, kok aku gak dapat link belajar?" tuturnya dengan sedih.

Ia pun sempat protes kepada sekolah."Ya komunikasi juga ke wali kelas. Jadi semuanya pada bingung akan nasib anak saya. Setelah saya coba komunikasi, saya diminta membuat dokumen dan bukti yang mendukung pernyataan saya jika saya kesulitan ekonomi," kata dia.

Permintaan ini, diminta pihak yayasan yang menaungi sekolah tersebut melalui kepsek. Dokumen yang disertakan oleh Indah berupa keterangan tertulis, foto dan bukti pendukung lainnya.

"Saya juga diminta ngurus surat keterangan warung saya tutup di RT RW. Padahal saat itu juga mendekati Natal. Jadi agak susah ngurusnya. Lalu, bukti saya mengalami operasi jantung, juga dikirim ke sekolah. Memang saya sampaikan, bahwa sebelum pandemi pun keluarga saya sedang mengalami masalah. Saya terpaksa dua kali operasi jantung akibat tumor," jelasnya.

Foto saat menjalani operasi sekitar dua tahun lalu dan bukti struk pasca operasi jantung, wajib disertakan.

Ia juga berupaya menjelaskan ke pihak sekolah jika usaha rintisannya di Februari tutup karna pandemi.

"Baru saya buka Februari di Bekasi, lalu Maret tutup. Jadi, saya belum memiliki pemasukan besar. Warung saya dan suami (di lokasi lain) juga tutup. Karena di daerah perkantoran, begitu kantor tutup, ya warung sepi," kata dia.

Ia berjanji akan melunasi SPP. Namun ia berharap, sekolah tidak mengeluarkan anaknya dan bisa mengizinkan OA kembali belajar.

"Karena saat mengurus surat RT RW posisinya emang pada libur Natal, tahun baru dan agak sulit mengurusnya. Saya sampaikan ini ke Kepsek. Masalahnya, Senin (4/1/2021) anak udah pada sekolah," kata dia.

Ia pun menanyakan ke sekolah apakah bisa anaknya tetap sekolah pada Senin lalu. Namun pihak sekolah mengatakan hal lain.

"Saya dikasih tau, anak saya tidak bisa belajar dulu di hari Senin lalu. Di grup juga sudah tidak bisa mendapat akses belajar. Tapi di absensi kelas masih ada nama anak saya. Ternyata, wali kelasnya tidak mau mengeluarkan anak saya dari absensi karena kasihan," tambahnya.

Dalam komunikasi terakhir dengan kepala sekolah, Indah diminta melakukan pelunasan hingga 19 Januari. "Wajib dilunasi. Tidak ada opsi mencicil yang diberikan, yang saya sayangkan itu," tambahnya lagi.

Ia sempat mengetahui, pada awal pandemi komite sekolah juga berjuang ke Yayasan untuk meminta keringanan SPP. Hal ini, atas desakan banyak wali murid yang terguncang ekonominya.

"Sempat tahu hal itu. Namun semua upaya tidak digubris. Malah tahun ini dinaikkan SPP-nya. Kepsek juga bilang, ada yang nasibnya seperti anak saya juga saat ini. Kesulitan membayar juga. Tapi saya tidak tahu apakah dikeluarkan atau tidak," tuturnya.

Sumber: suara




Name

Berita,7158,Berits,1,Entertainment,18,Health,2,Internasional,208,Kisah,4,Kriminal,10,Nasional,6945,News,19,Opini,30,Pilihan Editor,118,Pilkada Jabar,3,Politik,3,Tekno,3,Turn Back Hoax,2,
ltr
item
Martir News: Siswa Kelas 4 SD Dikeluarkan dari Sekolah, Ortu Nunggak SPP Rp13 Juta, Sang Ibu: Hati Saya Hancur
Siswa Kelas 4 SD Dikeluarkan dari Sekolah, Ortu Nunggak SPP Rp13 Juta, Sang Ibu: Hati Saya Hancur
https://1.bp.blogspot.com/-qopfFZxxKQ8/X_VAEjRfdyI/AAAAAAAAQNw/l98RjRwrRWsGcftmUy9Efze4WP2QMYHQACLcBGAsYHQ/w640-h360/a4cb9056cf15de1ea5a8b9019149a4bd.webp
https://1.bp.blogspot.com/-qopfFZxxKQ8/X_VAEjRfdyI/AAAAAAAAQNw/l98RjRwrRWsGcftmUy9Efze4WP2QMYHQACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h360/a4cb9056cf15de1ea5a8b9019149a4bd.webp
Martir News
https://www.martirnews.com/2021/01/siswa-kelas-4-sd-dikeluarkan-dari.html
https://www.martirnews.com/
https://www.martirnews.com/
https://www.martirnews.com/2021/01/siswa-kelas-4-sd-dikeluarkan-dari.html
true
218100392648765368
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content